Di era digital yang serba cepat, generasi Z https://dalmadicenter.com/pentingnya-mental-health-di-lingkungan-kerja-pada-kaum-gen-z/ tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang menuntut produktivitas tinggi sejak usia muda. Media sosial dipenuhi dengan konten tentang kesuksesan dini, kerja tanpa henti, dan glorifikasi kesibukan. Istilah hustle culture pun menjadi bagian dari keseharian, menggambarkan gaya hidup yang menekankan kerja keras terus-menerus demi pencapaian karier dan finansial. Namun, di balik semangat “kerja cepat”, banyak Gen Z yang justru “pulang lelah” bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental.
Hustle culture sering dipresentasikan sebagai simbol ambisi dan dedikasi. Bekerja lembur, mengambil banyak proyek sekaligus, dan selalu “sibuk” dianggap sebagai tanda kesuksesan. Bagi Gen Z yang baru memasuki dunia kerja, tekanan ini terasa semakin berat karena mereka tidak hanya bersaing dengan rekan kerja, tetapi juga dengan standar kesuksesan yang dibentuk oleh algoritma media sosial. Melihat orang lain tampak produktif dan berhasil setiap saat dapat memicu perasaan tertinggal, tidak cukup baik, dan cemas akan masa depan.
Tantangan mental yang muncul pun beragam. Burnout menjadi salah satu masalah paling umum. Ketika tuntutan kerja tinggi tidak diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup, tubuh dan pikiran mulai menunjukkan tanda kelelahan kronis. Gen Z sering mengalami kesulitan tidur, penurunan motivasi, hingga kehilangan makna dalam pekerjaan yang dijalani. Ironisnya, banyak dari mereka merasa bersalah saat beristirahat karena takut dianggap malas atau tidak kompeten.
Selain burnout, kecemasan dan overthinking juga menghantui. Budaya kerja cepat menuntut hasil instan, sementara proses belajar dan berkembang sebenarnya membutuhkan waktu. Gen Z yang masih berada dalam fase eksplorasi diri sering merasa terjebak antara keinginan untuk berkembang dan ketakutan akan kegagalan. Tekanan untuk selalu tampil produktif membuat mereka sulit menerima bahwa tidak semua hari harus diisi dengan pencapaian besar.
Faktor lain yang memperparah kondisi mental adalah kaburnya batas antara kehidupan kerja dan pribadi. Teknologi memungkinkan pekerjaan dibawa ke mana saja, kapan saja. Notifikasi email atau pesan kerja di luar jam kantor menjadi hal biasa. Akibatnya, waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan hobi semakin tergerus. Pulang kerja tidak selalu berarti benar-benar pulang secara mental, karena pikiran masih dipenuhi urusan pekerjaan.
Meski demikian, Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang lebih sadar akan kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Banyak dari mereka mulai mempertanyakan nilai hustle culture dan mencari keseimbangan hidup yang lebih sehat. Konsep work-life balance, quiet quitting, hingga slow living mulai mendapat perhatian sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja yang terlalu menekan. Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa produktivitas tidak seharusnya mengorbankan kesehatan mental.
Perusahaan dan lingkungan kerja juga memiliki peran penting dalam menjawab tantangan ini. Budaya kerja yang suportif, komunikasi yang terbuka, serta penghargaan terhadap batasan pribadi dapat membantu Gen Z merasa lebih aman dan dihargai. Fleksibilitas kerja, dukungan kesehatan mental, dan penilaian kinerja yang realistis menjadi langkah konkret untuk mengurangi tekanan berlebih.
Pada akhirnya, kerja cepat tidak harus selalu berujung pulang lelah. Tantangan mental Gen Z di era hustle culture dapat diatasi dengan perubahan pola pikir, baik secara individu maupun kolektif. Menghargai proses, memberi ruang untuk istirahat, dan memahami bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh produktivitas adalah kunci untuk bertahan dan berkembang. Dengan begitu, Gen Z dapat membangun karier yang berkelanjutan tanpa kehilangan kesehatan mental dan kebahagiaan hidup.